Bangunan Dengan Penggunaan Sumber Daya Yang Berlebihan
Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup
di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia
sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari
pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang
ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan
pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih
oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara
lain:
a)
Terjadinya
pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya
kawasan industri.
b)
Terjadinya banjir,
sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam
menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.
c)
Terjadinya tanah
longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.
Beberapa ulah manusia yang baik secara
langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup
antara lain:\
a)
Penebangan hutan
secara liar (penggundulan hutan).
b)
Perburuan liar.
c)
Merusak hutan bakau.
d)
Penimbunan rawa-rawa
untuk pemukiman.
e)
Pembuangan sampah di
sembarang tempat.
f)
Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).
Sekitar 99 % bangunan di ibukota DKI Jakartatidak
memenuhi konsep konstruksi berkelanjutan (sustainable construction) sehingga
boros energi dan cenderung tidak ramah terhadap lingkungan, karena menghasilkan
emisi gas buang yang besar.
"Pembangunan
gedung dan bangunan di Jakarta hanya di bawah satu persen yang memenuhi konsep
konstruksi berkelanjutan," kata pengamat Arsitektur Imelda Akmal di
Jakarta, Selasa.
Imelda
yang juga duta Holcim Award untuk program konstruksi berkelanjutan itu
memperkirakan hanya sekitar 10 bangunan di Jakarta yang sudah memenuhi konsep
konstruksi berkelanjutan yang ramah lingkungan dengan tumpuan pada pengurangan
dampak polusi dan mengurangi pemborosan energi.
Diakuinya,
dunia arsitektur Indonesia memang lambat peduli dengan masalah pembangunan
bangunan dengan konstruksi yang berkelanjutan, sehingga sampai sekarang masih
minim bangunan yang menggunakan konsep tersebut.
"Sebagian
bangunan dan perumahan di Indonesia masih mengutamakan fungsi, dan kalau punya
uang banyak ingin lebih nyaman, serta menunjukkan eksistensi pemiliknya, belum
memikirkan bangunan dengan konstruksi berkelanjutan yang ramah lingkungan untuk
masa depan," ujarnya.
Kondisi
itu, lanjut dia, juga terlihat dari minimnya arsitek yang menggunakan konsep
bangunan yang ramah lingkungan kepada para kliennya. Menurut dia, dari sekitar
4.000 arsitek di Indonesia, hanya empat orang yang saat ini menekuni konsep
konstruksi berkelanjutan tersebut, di antaranya Adi Purnomi dan Eko Prawoto.
"Tapi
saya yakin gerakan kecil ke arah pembangunan bangunan berkelanjutan tersebut ada
dimana-mana, seperti yang saya temui di Pesantren Darut Tauhid," ujarnya.
Sementara itu Manager Sustainable
Construction PT Holcim Indonesia Tbk, Alex Bueci, mengatakan
dalam konsep konstruksi berkelanjutan, desain bangunan memegang peranan
penting. Diakuinya konsep konstruksi berkelanjutan bisa menekan biaya sedikit
lebih tinggi atau sekitar 3-7 %, tergantung dimana gedung itu dibangun di
Indonesia. Namun dampak jangka panjangnya, mampu mengurangi biaya operasional
bangunan tersebut/
"Desain
adalah bagian yang penting dari bangunan. Dampak dari konstruksi berkelanjutan
dalam kehidupan gedung tersebut sangat besar, karena manusia yang tinggal di
situ bisa 24 jam dan mengeluarkan emisi gas buang CO2 yang memberi kontribusi
polusi 95 % dari gedung tersebut," katanya.
Oleh
karena itu, lanjut Alex, pihaknya mengembangkan konsep konstruksi berkelanjutan
agar bangunan yang ada di Indonesia maupun di dunia mampu mengurangi konsumsi
energi, kontribusi polusi, dan lebih ramah lingkungan, untuk masa depan yang
berkelanjutan.
Lebih jauh ia mengatakan konstruksi dan penggunaan bangunan
menggunakan 50 % sumber daya alam, 40 % energi, dan 16 % air. Hal itu, kata
dia, menyebabkan pembangunan bangunan dan perusakan bangunan menyumbang lebih
banyak limbah dibandingkan limbah rumah tangga.
Sumber:

0 komentar